Redenominasi Rupiah Rotating Header Image

Perbedaan Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah

Memang ada pandangan yang rancu beredar dimasyarakat mengenai perbedaan antara Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah.  Untuk mencegah salah pengertian antara redenominasi dengan sanering, Bank Indonesia menjelaskan perbedaannya secara rinci antara Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah.

Berikut ini perjelasannya:

1. Dilihat dari Pengertiannya:

Redenominasi Rupiah adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1.
Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.

Sanering Rupiah adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

2. Dilihat dari Dampaknya bagi masyarakat.

Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama.  Sedangkan Pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.

3. Dilihat dari sisi Tujuannya

Redenominasi rupiah bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional.

Sanering rupiah bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

4. Nilai uang terhadap barang.

Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan.

Pada sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.

5. Kondisi saat dilakukan.

Redenominasi dilakukans saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Sedangkan Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

6. Masa transisi

Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.

7. Contoh untuk harga 1 liter bensin seharga Rp 4.500 per liter.

Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka nol), maka dengan uang sebanyak Rp 4,5 tetap dapat membeli 1 liter bensin. Karena harga 1 liter bensin juga dinyatakan dalam satuan pecahan yang sama (baru).
Pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya dapat membeli 1/1000 atau 0,001 liter bensin.

23 Comments

  1. Santoso says:

    saya sangat mendukung inisiatif dari Bank Indonesia,,,, bila dibandingkan mata uang rupiah dengan mata uang negara lain sangat jauh perbedaannya….. di negara tetangga nominal uangnya kecil tapi nilai mata uangnya tinggi. Kalau di negara kita, penyebutannya berjuta-juta tapi nilai uang nya kecil…… Mudah-mudahan cepat terlaksana, disosialisasikan segera,selanjutnya diterapkan….. LEBIH CEPAT LEBIH BAIK….. terima kasih.

  2. Alex Ramses says:

    Di kampung2 di Jawa (entah di pulau lain), sudah lama sekali mereka melakukan redenominasi ini. Datanglah ke pasar2 atau ke warung2 dan dengarkan mereka membicarakan mengenai harga motor atau sapi misalnya. Tidak ada yang menggunakan kata juta lagi. Mereka akan bilang beli sapi seharga sangang ewu (sembilan ribu), padahal yg dimaksudkan itu adalah sembilan juta.

  3. nique says:

    klo yang terjadi SANERING, apa gak bakal rusuh ya?
    karena bakal banyak yang masuk kategori orang miskin ‘kan?

  4. Miftachul Azwar Annas says:

    Sumpah, ini keren bgt ! banget99x keren. dampak positifnya banyak bgt bagi perekonomian Indonesia. yah meskipun nilai mata uang kita ga turun, tapi nominasinya turun. wkwkwk
    Bayangkan harga MacBook yg harganya 18jutaan berubah drastis jadi CUMA 18.000 gila ga tuh. meskipun harga aslinya sama aja kyk 18juta, tapi ngedenger 8ribunya itu masyarakat jadi seneng bgt !!
    Ayo saya dukung sepenuhnya redenominasi mata uang rupiah. saya dukung 100%… :)

  5. bagus says:

    Konsepnya ok-ok aja, masalahnya tidak ada yang menjamin harga2 tidak mengalami kenaikan, Apa pemerintah berani menjamin (saya tidak yakin).
    misalnya harga beras hanya bergeser komanya, UU akan lengkap jika disertai UU hukuman untuk orang yang memainkan harga saat redenominasi. Jangankan isyu redenominasi, baru isyu bbm aja, harga-harga sudah membumbung dan pemerintah angkat tangan, bisanya bingung.

  6. bagus says:

    Jikapun tidak ada yang memainkan secara matematis, akan terjadi pembulatan keatas untuk harga2, jika suatu proses produksi melibatkan banyak transaksi bisa dibayangkan berapa kali terjadi pembulatan keatas untuk suatu harga produk, tentunya sedikit banyak akan memicu inflasi

  7. Dian Purnama says:

    bener kata mas alex..
    di daerah saya di prambanan kami menyebut 2ribu untuk 2juta, 17 untuk 17ribu, 150 untuk 150rbu. 7,5 untuk 7500.
    sebenernya masyarakat sudah terbiasa.. jadi saya sendiri mendukung redenominasi.
    toh harga beli jg tdk terpengaruh.. asal jenis mata uang sen tersedia di pasaran agar tidak ada pembulatan harga ke atas yg menyebabkan inflasi..

  8. Sari says:

    Menanggapi tentang REDENOMINASI Rupiah, Sy jd teringat ketika pulang dari Orchard Road ke Bukit Timah dengan menggunakan Taxi.
    Didalam perjalanan si sopir taxi mencoba bersikap ramah kepada Kami (saya dan teman saya Puri) dengan sekedar mengobrol.
    Dan Pak Shaik (nama sopir Taxi yg kami tumpangi) ternyata masih ada keturunan dari Indonesia.
    Ibunya yg berasal dari Jawa Timur dan Bapak’y yg berasal dari India, jika tidak salah.
    Dan pada saat’y dalam obrolan Kami, Beliau bertanya berapa rupiah nilai tukar $1 Singapura terhadap Rupiah. Dan kami menjawab sekitar kurang lebih Rp.7.000,-
    Pak Shaik begitu terkejut’y mendengar nilai tukar’y begitu besar. Beliau bilang itu sama saja dengan gaji’y selama 1 atau 2 bulan bahkan 3 bulan gaji’y sebagai Taxi driver (tahu maksud Beliau hanya berkelakar).
    Hahhaha…Sayapun jadi tertawa sungkan karena merasa agak malu, karena berfikir begitu rendah nilai tukar mata uang kita yah?! Hhmmhh…
    Padahal nilai nominal’y tidak beda jauh.
    Sama dengan ketika satu set menu makan nasi Padang di Singapura dibandrol dengan harga $4,50cent mungkin di Indonesia seharga Rp. 20.000,- atau lebih, hahahah coba lihat perbedaan angka’y.
    Dan teringat pula ketika kami sampai tujuan, Kemudian Argo menunjukan angka $10 30cent terlihat murah sekali yah??!! sedangkan dulu kira-kira 3 atau 4 tahun lalu saya ingat ketika di Cirebon naik taxi dari Grage ke Kedawung, Saya dan keluarga membayar dengan satu lembar uang Rp.20.000,-
    Beuuhhh waktu itu klo lagi gak ada duit dan gak butuh-butuh banget taxi sih males dehhh, sayang banget tuh uang’y hehhee…

    Soooo…kesimpulan’y saya setuju jika mata uang Rupiah di REDENOMINASI!!!! ^o^v

  9. mashen says:

    Artikelnya sangat membantu. Lengkap sekali menjelaskan mengenai redenominasi. Semoga redenominasi ini berhasil, saya sangat mendukung Rupiah yang lebih terhormat.

  10. Wayan Aksara says:

    Tanggung, begitu banyak upaya, biaya dan waktu hanya untuk menghilangkan tiga angka nol. Hingga pada akhirnya 1 dolar Singapura setara dengan 7,86 rupiah. Nilai rupiah masih lebih rendah dari nilai dolar Singapura. Mengapa tidak sekalian menghilangkan empat angka nol sehingga 1 dolar Singapura setara dengan 79 sen? Atau yang lebih keren lagi: 1 dolar AS menjadi senilai 96 sen, dengan kata lain 1 rupiah bernilai 1,04 dolar AS. Gimana?

  11. Sswanddy says:

    Memang seharusnya mata uang kita spt itu,,

  12. Agung says:

    Saya tidak setuju!!!
    Itu pemikiran orang malas saja. Kalau mau 1 $ = Rp 1000, ya kerja keras dong! Jangan main potong uang saja. Kerja keras, jangan cuma jadi calo. 90% pengusaha kita cuma calo. Gimana mau naik nilai rupiahnya kalau tidak ada basisnya.
    Lagi pula, emangnya ada jaminan kalau setelah pemotongan, dolar tidak melonjak jadi Rp 2000, Rp 3000 bahkan kembali ke Rp 9600?
    Alasan terlalu banyak digitnya terasa mengada-ada. Jaman sekarang, komputer mau berapa digit juga sanggup.

  13. suroso says:

    semisal buat jenis mata uang baru diatas rupiah gmana? Misal 1x = Rp. 1000, mhn ditanggapi

  14. M.Ubbadah Al Ala' says:

    Saya sangat setuju dg rencana redenominasi…karena dg disetujuinya rencana tersebut, masyarakat akan lebih mudah melakukan perhitungan uang atau penghasilan mereka tanpa mengurangi nilainya……..

  15. rizky qnoy says:

    agak unik memang dan sedikit aneh bagi orang awam seperti saya. bila saya memiliki gaji sebesar Rp. 5.000.000,- nanti ketika benar benar telah diterapkan secara menyeluruh berarti gaji saya hanya Rp. 5.000,-
    semoga saja rencana redenominasi ini sukses dan tidak menimbulkan kekacauan, terutama tidak berubah menjadi sanering terhadap nilai rupiah.

  16. Dede Gunawan says:

    Pada saat pelaksanaanya tetap akan ada gejolak di masyarakat. Betul-betul harus dikaji secara mendalam rencana redenominasi rupiah ini. Redenominasi tentu dimaksudkan untuk uang kartal rupiah yang beredar. Bagaimana uang-uang giral yang ada, bagaimana dengan perhitungan dan pencatatan nilai dan data-data aset dan keuangan negara, swasta maupun orang perorang.

    Saya kok cenderung untuk memberi nama mata uang baru untuk uang kartal yang dikurangi jumlah digitnya ini kemudian secara bertahap bisa dikonversikan uang-uang giral rupiah yang ada. Tujuan tetap akan tercapai dan masyarakat akan lebih mudah memahami dan pastinya proses transisi akan jauh relatif lebih singkat. Saya kira cukup dalam jangka waktu 2-3 tahun rencana ini bisa berjalan.

  17. Tengku says:

    S3 ! = Sangat Sangat Setuju
    Redenominasi ini awal dari kesuksesan Indonesia dan dengan R-minasi ini rupiah akan lebih dihargai di internasional sementara kita semua tau, saat ini rupiah tercatat sebagai mata uang tersampah ke 3 dunia. Dengan gelar ini mana bisa kita bangga dengan rupiah??, sementara masyarakat Indonesia takut kalau di redenominasi korupsi 1 M bisa jadi hanya 1 juta, jangan takut karena dapet uang satu juta kalau setelah redenominasi ini akan sulit, karena setara 1 M. Kalau kita terbiasa pasti 1 juta aja akan terbilang sangat besar lihat aja 1 juta dollar, ringgit atau baht, kalau ditukar ke rupiah bisa sampai milyaran rupiah. Itu satu juta.

  18. Een purwant says:

    setuju redenominasi dilakukan agar gengsi rupiah terangkat dan dalam pembelajaran akuntansi ato yang laen kita tidak perlu lagi menulis bertele-tele atau ada kalimat dalam kurung yang menyatakan bahwa angka tersebut dalam ribuan ato jutaan.

  19. Erwin says:

    Lebih cepat lebih baik

  20. H. Rachmad says:

    Saya setuju Redenominasi Rupiah yang bertujuan menyederhanakanpecahan uang rupiah, tapi tidak Rp1000,- menjadi Rp1,- karena akan membingungkan untuk pecahan dibawahnya. Usul saya Rp1000,- menjadi RR1,- (Satu ribu rupiah) dengan demikian harga dengan nilai Rp 100,- dan Rp50,-masih bisa ditransaksikan, menggantikan nilai sen, misal harga Rp1.150.550 menjadi RR1.150,55. Untuk Rp10.000.000 menjadi RR10.000. Saya yakin masyarakat lebih mudah menerima dan cepat terbiasa bertransaksi.

    1. Timotius says:

      Idea yang bagus, bisa juga Rp10.000 menjadi PR1, jadi kalau Rp1.001.500 = 100PR1500rupiah.

      1. Timotius says:

        buat aja uang baru Rp 1000 menjadi RR 1 artinya 1000 Rp sama dengan 1 RR, utk Rp 10.000 jadi RR.10 dst

  21. jufry rizkianto says:

    saya mendukung dengan kebijakan moneter yang akan di lakukan oleh BI berkaitan dengan redenominasi rupiah..
    cuman yang menjadi pertanyaan saya,
    Bagaimana mengatasi dampak negatif dari adanya redenominasi, seperti :
    - ” bagaimana mengatasi dampak phsycologis negatif di masyarakat seperti self fulfilling panics ?”
    - “kekhawatiran akan terjadinya capital flights?”
    - ” sektor mikro akan termarjinalkan”
    - ” sosialisasi dan proses redenominasi akan menghabiskan biaya yang besar”

    - terima kasih-

Leave a Reply