Redenominasi Rupiah Rotating Header Image

Redenominasi Rupiah Di Indonesia

Redenominasi rupiah adalah pemotongan nominal yang dilakukan pada sebuah mata yang tanpa mengurnagi jumlah nilainya. Prinsip yang dilakukan pada suat perubahan hanyalah penyebutan nama. Misalnya adalah jika kita memiliki sebuah mata uang yang pecahannya adalah RP. 100 ribu, maka dengan uang itu kita bisa membeli sebuah kemeja yang harganya Rp. 100.000. Dan saat akan diberlakukan redenominasi rupiah di Indonesia 1:1000, maka Bank Indonesia selanjutnya akan menerbitkan mata uang baru dengan minimal sebesar Rp. 100, namun nilainya tetap setara dengan jumlah Rp. 100.000. Pada saat redenominasi rupiah di Indonesia ini terjadi, maka kita dapat menukarkan mata uang lama yang saat ini kuta miliki dengan nominal Rp.100. Dari kedua mata uang tersebut tetaplah mempunyai nilai yang sama.

Redenominasi rupiah di Indonesia berbeda pengertian dengan sanering. Sedangkan yang dimaksud dengan Sanering adalah pemotongan dari nominal mata uang yang beserta dengan nilainya. Misalnya adalah jika saat ini kita memiliki uang dengan jumlah peecahan RP. 100.000 dan dengan uang tersebut maka kita bisa membeli sebuah meja yang harganya Rp. 100.000. Dan jika diberlakukan sanering, maka 1:1000 dan uang kita akan terpotong nomilanya beserta dengan nilainya. Bank Indonesia akan mengeluarkan mata uang baru dengan jumlah pecahan Rp. 100.

Untuk bisa memiliki jumlah pecahan tersebut kita harus menukarnya dengan uang lama pecahan kita Rp. 100.000. Dan jika sudah ditukar maka nilai uang yang  kita kiliki hanya Rp. 100. Jadi untuk membeli sebuah kemeja yang harganya Rp.100.000 maka kita harus mengeluarkan mata uang pecahan lama pecaran Rp. 100.000 sebannyak 1000 lembar atau dengan mata uang Rp.100 sebanyak 1000 lembar juga.

Redenominasi rupiah Di Indonesia mempunyai manfaat untuk mengurangi penyesuaian pada perangkat keras dan juga lunak dalam mengakomodasi digit angka yang semakin besar. Dan saat ini kemampuan dari computer hanya bisa mengakomodasi 15 digit angka sementara nilai APBN telah mencapai 16 digit. Oleh sebab itulah hal ini bisa memberikan dampak yang positif bagi dunia perbankan.

Perbedaan Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah

Memang ada pandangan yang rancu beredar dimasyarakat mengenai perbedaan antara Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah.  Untuk mencegah salah pengertian antara redenominasi dengan sanering, Bank Indonesia menjelaskan perbedaannya secara rinci antara Redenominasi Rupiah Dengan Sanering Rupiah.

Berikut ini perjelasannya:

1. Dilihat dari Pengertiannya:

Redenominasi Rupiah adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1.
Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.

Sanering Rupiah adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

2. Dilihat dari Dampaknya bagi masyarakat.

Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama.  Sedangkan Pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.

3. Dilihat dari sisi Tujuannya

Redenominasi rupiah bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional.

Sanering rupiah bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

4. Nilai uang terhadap barang.

Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan.

Pada sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.

5. Kondisi saat dilakukan.

Redenominasi dilakukans saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Sedangkan Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

6. Masa transisi

Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.

7. Contoh untuk harga 1 liter bensin seharga Rp 4.500 per liter.

Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka nol), maka dengan uang sebanyak Rp 4,5 tetap dapat membeli 1 liter bensin. Karena harga 1 liter bensin juga dinyatakan dalam satuan pecahan yang sama (baru).
Pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya dapat membeli 1/1000 atau 0,001 liter bensin.

Redenominasi Rupiah

Topik yang sedang menarik perhatian publik saat ini adalah redenominasi rupiah. Rencana Bank Indonesia untuk melakukan redenominasi rupiah banyak mengundang kritik dari berbagai pihak dari ahli ekonomi, pengamat bursa saham, pelaku bisnis dan lain-lainnya. Bank Indonesia mengatakan, redenominasi rupiah tidak sama dengan sanering atau pemotongan nilai mata uang. Sebab, dalam redenominasi meski tiga angka nol terakhir dihilangkan, tapi nilainya sama.

Apa sih redenomiasi rupiah? Inti dari redenomiasi rupiah adalah penyederhanaan nilai mata uang atau dengan kata lain pengurangan nilai mata uang, tetapi tidak mengurangi nilai tukar dari mata uang yang dikurangi tersebut.

Sebagai contoh Nilai Mata Uang Rupiah Rp. 1.000,- (seribu rupiah) nantinya akan menjadi Rp. 1,- (satu) rupiah saja, Rp. 10.000,- akan menjadi Rp. 10,- (intinya nilai mata uang sekarang dikurangi dengan tiga digit nominal). Memang saat ini masih ada pembahasan, berapa digit yang akan dihilangkan. 3 digit atau 2 digit.

Walaupun hal ini baru merupakan wacana saja karena pemerintah juga belum menyetujuinya, tetapi pastinya hal ini akan menjadi perbincangan di mana-mana. Baik itu ditingkat pebisnis kelas kakap sampai pedagang kecil kelas teri. Tak dapat dibayangkan betapa lama dan repotnya sosialisasi yang harus dilakukan jika nantinya program redenominasi rupiah tersebut betul-betul dilaksanakan. Belum lagi terkait biaya yang harus dikeluarkan sebagai pengganti uang rupiah lama dengan yang baru.

Rencananya redenominasi rupiah ini akan dilaksanakan secara penuh pada tahun 2022 nanti dan untuk masa sosialisasinya akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2013 yang akan datang. Selama masa sosialisasi tersebut, akan digunakan 2 (dua) jenis mata uang rupiah yaitu rupiah lama dan rupiah baru.

Jadi selama masa transisi, masyarakat bisa memilih mau membayar barang dengan mata uang rupiah lama atau mata uang rupiah baru.